Pages

Dampak Positif dan Negatif PLTN (Nuklir)

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir


Dalam permasalahan ini tenaga nuklir banyak dibicarakan dan menjadi topik yang hangat diIndonesia ,untuk itu saya akan menjelaskan lebih detail tentang penggunaan Nuklir agar anda dapat menyimpulkan,,pantaskah nuklir dipakai dinegara kita.
 
Dampak Positif energi Nuklir


Nuklir Alternatif Menjawab Krisis Energi
Harga minyak mentah di pasar internasional yang bersifat fluktuatif agak­nya membuat penghuni dunia tersentak. Wajar, karena dari waktu ke waktu, kebutuhan akan kuantitas minyak seba­gai sumber energi selalu meningkat. Sekitar 50% kebutuhan energi du­nia bersumber dari bahan bakar mi­nyak. Sisanya, disuplai dari. batu bara dan gas alam, Sementara energi surya, angin dan sebagainya, hanya mem­berikan kontribusi yang sedikit.

Beberapa tahun mendatang, energi tak terbarukan itu pun dipastikan akan habis. Mungkin, penghematan dapat menjadi alternatif agar stok minyak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Namun, sampai kapan harus terus berhemat. Apalagi, seiring dengan me­ningkatnya teknologi dan industriali­sasi, sangat mustahil, jika seruan ber­hemat BBM dapat dilaksanakan se­maksimal mungkin.
Justru sebaliknya, kandungan mi­nyak di perut bumi akan terus dieks­ploitasi guna menjawab kebutuhan energi industri dan rumah tangga. Karena itu, sudah saatnya perlu ada implementasi kebijakan yang revolu­sioner ke arah inovasi energi nonmigas.


Dalam konteks ini, energi nuklir menjadi alternatif yang harus diperhi­tungkan. Laporan World Nuclear Association 2005 berjudul The New Economics of Nuclear Power, menyimpulkan bahwa nuklir adalah alternatif terbaik men­jawab persoalan semakin langkanya minyak sebagai sumber energi.


Biayanya jauh lebih rendah diban­dingkan dengan energi berbahan ba­kar lain. Di Spanyol, biaya produksi listrik yang dihasilkan pembangkit nu­klir turun hingga 29% selama 1995-2001. Ongkos bahan bakar energi listrik nuklir juga lebih rendah dibandingkan dengan biaya listrik berbahan batu bara, minyak, dan gas yang kadang menyebabkan masalah logistik, serta pencemaran.


Sementara nuklir, dengan bahan baku uranium dipastikan akan lebih mudah diangkut dan murah biaya. Volume yang diperlukan lebih kecil dari pada batu bara dan minyak. Satu kilogram uranium alam dapat meng­hasilkan 20.000 kali lebih banyak energi ketimbang jumlah batu bara yang sama.
Dengan nuklir, maka di­perkirakan peran batu bara dapat ber­kurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.


Lebih bersaingBerdasarkan perhitungan Asosiasi Nuklir Dunia pada Januari 2006, daya nuklir jauh lebih bersaing dibandingkan dengan pembangkit listrik jenis lain. Biaya energi nuklir hanya sekitar sepersepuluh biaya batu bara. Biaya energi nuklir rata-rata 0,4 sen euro per kWh, sama seperti tenaga air. Batu bara lebih 4 sen euro, gas berjangka 2,3 sen euro dan hanya tenaga angin yang lebih baik daripada nuklir. Biaya nuklir pun akan terus menurun.


Daya tarik energi nuklir juga terletak pada_murahnya ongkos bahan bakar dibandingkan dengan pusat listrik batu bara, minyak dan gas. Biaya yang dikeluarkan menyangkut pengelolaan bahan bakar bekas pakai, dekomisioning dan penyimpanan lim­bah akhir. Biaya dekomisioning diper­kirakan sebesar 9%-15% dari biaya modal awal pusat listrik nuklir.


Biaya tersebut hanya beberapa per­sen tambahan atas biaya investasi. Bahkan, lebih kecil lagi dari biaya pem­bangkit listrik. Dalam laporan bersama Nuclear Energy Agency OECD dengan Interna­tional Energy Agency yang disusun selama tujuh tahun, disimpulkan bah­wa daya saing nuklir terus bertambah karena pada 1998, terjadi peningkatan faktor kapasitas listrik nuklir dan naik­nya harga gas.


Meski demikian, dengan segala ke­unggulannya, energi nuklir seolah tenggelam karena banyak masyarakat dunia yang masih phobia terhadap tra­gedi meledaknya reaktor Chernobyl Ukraina pada 26 April 1986.
Mohammad Ridwan, Mantan Kepala Badan Pengawas Teknologi Nuklir,  dalam presentasinya pada acara diskusi panel tentang Pembangunan PLTN.di Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan tidak perlu tragedi tersebut menjadi penghambat dalam mengimplementasikan energi nuklir.


Menurut dia, tragedi tersebut terjadi karena desain reaktor Chernobyl tidak stabil pada daya rendah. Sementara daya reaktor bisa naik cepat tanpa bisa dikendalikan. Di Indonesia, jarang sekali masyara­kat yang tahu kontribusi positif nuklir bagi kesejahteraan manusia. Nuklir menjadi momok senjata yang mena­kutkan. Padahal, Indonesia tidak per­nah berminat membangun infrastruk­tur senjata nuklir untuk berperang.



Dampak negatif PLTN 

yakni bahaya radiasi yang dapat membunuh makhluk hidup. Namun, pembangunan PLTN juga memiliki dampak positif bagi masyarakat. Dengan PLTN secara bertahap pembebasan karbondioksida ke atmosfer, yang menjadi menyebab pemanasan global, dapat dibatasi. Selain itu dapat pula dikurangi emisi gas SO2, VHC, dan Nox sehingga membantu mengurangi hujan asam dan pembatas emisi gas rumah kaca.

0 komentar:

Poskan Komentar